Pengalaman Apa Hukumnya Bila Menikah Di Bulan Safar

Bulan Safar ialah bulan ke-2 pada penanggalan Hijriyah hingga beberapa beberapa ulama memberikan julukan bulan Safar ini dengan Shafarul Khair serta Shafar sendiri mempunyai makna kebaikan karena pada umumnya, beberapa orang pemula yang memiliki pendapat bila bulan Safar ialah bulan yang sial serta penuh dengan bala atau bencana. Berikut yang membuat umat Islam makin optimistis serta menamakannya Shafarul Khair hingga bulan Safar sendiri tidak terdengar menakutkan ditambah lagi dipandang seperti bulan yang sial. Sebenarnya, tiap-tiap bulan Islam memiliki kekhususan sendiri dan kelebihan yang berlainan begitupun dengan terdapat beberapa keutamaan bulan Safar.
ads

Hari dan bulan dalam setahun pada intinya ialah sama serta tidak ada hari atau bulan spesifik yang dapat memberi sial atau memunculkan bencana karena keselamatan atau kesialan doa sholat dhuha pada hakekatnya kembali ke ketetapan yang telah jadi takdir Ilahi serta perlu untuk diketahui bila banyak keutamaan bulan shafar sama dengan bulan bulan yang lain.

Di waktu jahiliyyah, penduduk Arab memandang bila bulan Safar ialah bulan tidak baik yang ada beberapa bencana dan musibah hingga tunda beberapa kegiatan supaya terlepas dari kesialan. Ini dapat berlangsung dalam kebiasaan yang menggunakan banyak hitungan untuk memastikan hari baik serta tidak baik. Lantas bagaimana hal itu dilihat oleh perubahan Islam?.

Pernikahan adalah sunnah yang disarankan oleh Rasulullah SAW untuk semua umat yang telah dapat serta keharusan menikah dalam Islam ialah satu bentuk beribadah yang telah diputuskan menjadi penyempurna agama.

Namun, waktu akan lakukan pernikahan ini, diketemukan banyak masalah yang pada intinya sangat mengada ada seperti lakukan satu pernikahan mesti atau dikerjakan atau dilarang dikerjakan pada bulan bulan spesifik. Rasulullah SAW sendiri telah memberi contoh tidak untuk ikuti rutinitas yang Jahiliyyah yaitu tidak mematuhi larangan untuk menikah di bulan Syawal.
Pernikahan Rasulullah SAW

Didalam catatan sirah nabawiyah tercatat bila ada sebelas wanita yang dinikahi Rasulullah SAW serta dua salah satunya wafat saat Rasulullah SAW masih tetap hidup, sesaat untuk bekasnya wafat setelah beliau meninggal dunia. Biasanya, Rasulullah SAW menikah beberapa wanita itu oleh karena pertimbangan tentang kemanusiaan dan untuk kelancaran masalah dakwah serta bukan dilandasi dengan udara nafsu.

Khadijah binti khuwailid dinikahi Rasulullah SAW di Mekkah waktu beliau berusia 25 tahun serta khodijah berusia 40 tahun pada 10 Rabiul Awal. Dari pernikahan itu, Rasulullah SAW dikaruniai sebagian orang anak lelaki serta wanita. Akan tetapi semua anak lelaki Rasulullah SAW wafat serta anak wanita beliau bernama Zainab, Ummu Kultsum, Fatimah serta Ruqoyyah serta Rasulullah SAW juga tidak menikah lagi saat Khodijah masih tetap hidup.
Saudah binti Zam’ah dinikahi Rasulullah SAW di bulan Syawal tahun ke-10 dari kenabian beberapa waktu setelah Khodijah meninggal dunia. Wanita itu ialah seseorang janda yang ditinggal mati suaminya bernama As Sakron bin Amr.
Aisyah binti Abu Bakar dinikahi Rasulullah SAW di bulan Syawal tahun kesebelas dari kenabian serta satu tahun setelah beliau menikah dengan Saudah atau dua tahun serta lima bulan sebelum Hijriah.
Hafsah binti Umar bin Khattab ditinggal mati oleh suaminya Khunais bin Hudzafah As Sahmi dan dinikahi Rasulullah SAW di bulan Syaban tahun ke-3 Hijriyah dengan arah untuk menghargai bapaknya, Umar bin Al Khattab.

Zainab binti Khuzaimah dari Bani Hilal bin Amir bin Sha’saha’ah yang diketahui dengan Ummul Masakin awal mulanya mempunyai suami Abdulloh bin Jahsy akan tetapi syahid di uhud serta Rasulullah menikahinya di tahun ke empat Hijriyyah. Ia lalu wafat dua atau tiga bulan setelah pernikahannya dengan Rasulullah SAW itu.
Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah menikah dengan Abu Salamah akan tetapi wafat di bulan Jumadil akhir tahun empat hijriyah serta tinggalkan dua orang anak lelaki serta dua orang anak wanita. Ia lalu dinikahi Rasulullah SAW di bulan Syawal pada tahun yang sama juga.
Zainab binti Jahsyi bin Rayab dari Bani Asad bin Khuzaimah serta puteri bibi Rasulullah SAW awal mulanya menikah dengan Zaid bin Harits lantas diceraikan oleh suaminya. Ia lalu dinikahi Rasulullah SAW pada bulan Dzul Qa’dah tahun ke lima Hijriyah.
Juwairiyah binti Al Harits, pemimpin Bani Mustholiq dari Khuza’ah adalah tawanan perang yang sahamnya dipunyai Tsabit bin Qais bin Syimas lantas ditebus Rasulullah SAW serta dinikahi oleh beliau pada bulan Sya’ban tahun ke enam Hijriyah.
Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan awal mulanya menikah dengan Ubaidillah bin Jahsy serta pindah ke Habsyah. Suaminya itu lalu murtad serta jadi Nashroni lantas wafat dari sana. Ummu Habibah masih istiqomah dalam Islam serta waktu Rasulullah SAW kirim Amr bin Umayyah Adh Dhomari untuk mengemukakan surat pada Raja Najasy di bulan Muharram tahun ke-7 Pindah. Nabi mengkhitbah Ummu Habibah lewat raja itu dan dinikahi dan dipulangkan kembali pada Madinah bersama dengan Surahbil bin Hasanah.

Rasulullah SAW tidak mengutamakan di bulan spesifik waktu lakukan pernikahan dengan istri istri Nabi Muhammad SAW itu, namun bulan yang seringkali digunakan beliau untuk menikah ialah bulan Syawal yang dipandang seperti bulan sial untuk menyelenggarakan pernikahan oleh beberapa golongan Jahiliyah.

Dalam satu hadits kisah Bukhari Muslim, Rasulullah SAW juga memberi beberapa keterangan tentang penyimpangan dari akidah serta bersabda, “Tidak ada penyebaran penyakit, tidak diijinkan meramalkan ada beberapa hal jelek, tidak bisa berprasangka jelek, serta tidak ada keburukan dalam bulan Shafar.”

Diluar itu, seseorang A’raby atau masyarakat di pedesaan Arab juga menanyakan pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, lantas bagaimana dengan onta yang sebelumnya sehat lalu bergabung dengan onta yang kudisan kulitnya, hingga onta itu jadi kudisan juga?”. Rasulullah SAW lantas menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan juga, “Lalu siapa yang menularkan (kudis) pada onta yang pertama?”
Ungkapan di atas mengenai tidak ada penyebaran penyakit punya maksud untuk meluruskan kepercayaan dari jahiliyah yang memiliki pendapat bila penyakit itu bisa menyebar dengan sendirinya sinyal berdasar pada ketetapan takdir Ilahiyah.

Untuk meluruskan kepercayaan itu, karena itu Rasulullah SAW menjawab pertanyaan dengan juga pertanyaan. Jika penyakit kudis pada unta sehat datang dari unta yang terserang kudia, lantas siapakah yang menularkan kudis itu kali pertamanya.

Dalam Islam, semua hari serta bulan ialah baik serta mempunyai histori dan kelebihan yang berlainan termasuk juga bulan Safar. Jika ada bulan spesifik yang mempunyai bagian keutamaan lebih baik, karena itu tidak bermakna bila bulan yang lainnya ialah bulan jelek. Jika berlangsung kesialan atau momen jelek pada bulan spesifik seperti bulan Safar, karena itu tidak mengartikan bila bulan itu adalah bulan yang penuh dengan musibah. Telah jadi pekerjaan kita untuk mencari apakah hikmah di balik peristiwa itu serta amalkan apakah yang perlu dikerjakan hingga dapat terlepas serta selamat dari satu keburukan beberapa musibah.

Al Imam Ibn Hajar al Haitamin sempat mendapatkan satu pertanyaan mengenai status ada hari nahas yang diakui beberapa orang hingga tidak lakukan pekerjaan atau pekerjaan seperti misalnya menikah karena dipandang seperti bulan yang penuh dengan keburukan serta bukan bulan baik untuk menikah dalam Islam. Beliau lantas memberikan jawaban bila ada seorang yang yakin akan ada hari nahas atau sial dengan tujuan mewajibkan untuk berpaling darinya atau menghindar dari satu pekerjaan di hari itu sekaligus juga memandang hal tersebut ialah sial, karena itu sebenarnya hal itu masuk ke kebiasaan orang Yahudi serta bukan sunnah muslim yang tetap tawakkal pada Allah SWT serta tidak mempunyai prasangka jelek pada Allah.

Sesaat bila ada kisah yang menyampaikan beberapa waktu yang perlu dijauhi karena memiliki kandungan keburukan, karena itu kisah itu bathil ataukah tidak benar, memiliki kandungan kebohongan dan tidak mempunyai dalil yang pasti hingga mesti dijauhi.

Semua hari, bulan, matahari, bintang serta makhluk hidup yang lain akan tidak memberikan faedah atau madlarat akan tetapi yang dapat memberi ke-2 hal itu hanya Allah SWT. Ini menyimpulkan bila ada seseorang muslim yang yakini ada hari sial yang membuat orang muslim jadi pesimis, karena itu ini bukan ajaran Islam yang dikasihkan Rasulullah SAW.

Beberapa orang yang tidak mau menyelenggarakan menikah di bulan safar karena takut berlangsung perihal yang tidak diharapkan, itu semua tidak dilandasi dengan basic hukum Islam yang pasti dna cuma jadi budaya yang bermula dari jaman jahiliyah, dikarenakan satu tahun, Allah turunkan wabah penyakit serta pada akhirnya beberapa orang yang mati termasuk juga beberapa pasangan pengantin. Oleh karenanya, sejak waktu itu orang jahiliyyah tidak menyelenggarakan pernikahan pada bulan itu. Sayyidah Aisyah RA bahkan juga menentang budaya semacam ini serta berkata. “Rasulullah SAW menikah dengan saya pada bulan Syawal, bergabung (membina rumah tangga) dengan saya pada bulan Syawal, karena itu siapakah dari isteri beliau yang lebih mujur dibanding saya.”