Malam Nisfu Bulan Sya'ban 1440 H jatuh Pada Tanggal 2019

Malam nisfu Sya’ban tahun 1438 Hijriyah jatuh bersamaan dengan tanggal 11 Mei 2017 Masehi. Pada beberapa umat Islam ada kepercayaan jika malam nisfu Syaban ialah peristiwa terpenting sebab jadi peristiwa di mana semua catatan amal manusia ditutup sekaligus juga di buka kembali catatan baru. Kepercayaan itu sudah melahirkan tradisi-tradisi sama-sama mohon maaf, kebiasaan bergabung di majelis taklim atau masjid, serta berdoa bersama dengan, membaca shalawat dan kebaikan yang lain.

Karenanya saat malam nisfu Sya’ban banyak penduduk menyampaikan pesan permintaan maaf pada rekan, teman dekat, keluarga serta handai taulan dimanapun. Tidak hanya meminta maaf juga sama-sama memperingatkan akan keutamaan serta pentingnya bulan Sya’ban, bulan yang hadir mendekati Ramadhan. Dalam account facebooknya Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang KH Ahmad Mustofa Bisri contohnya, dengan spesial mengemukakan permintaan maafnya pada penduduk.

“Menjelang Nisfu Sya’ban, dari Allah saya minta dilihat jika saya sudah memaafkan siapapun yang sempat menyalahiku baik menyengaja ataukah tidak; dari kalian semua yang sempat bergaul denganku, saya minta maaf atas semua kekeliruan serta kekhilafanku,” catat Gus Mus.

Menghidupkan malam Sya’ban begitu disarankan terutamanya malam Nisfu Sya’ban dengan perbanyak beribadah serta lakukan amalan baik. Itu penyebabnya terdapat beberapa penduduk, malam nisfu Sya’ban ditradisikan dengan bergabung di masjid, membaca doa bersama dengan, lakukan amalan-amalan baik serta bersantap bersamanya.

Dalam kitab Qalyubi wa ‘Umairah diterangkan jika “Disunahkan menghidupkan malam hari raya, Idhul Fitri serta Idhul Adha, dengan berdzikir serta shalat, terutamanya shalat tasbih. Sekurangnya ialah kerjakan shalat Isya berjamaah serta membulatkan kemauan untuk shalat Shubuh berjamaah. Amalan ini dapat baik dikerjakan pada malam nisfu Sya’ban, awal malam bulan Rajab, serta malam Jumat sebab pada malam-malam itu doa dipenuhi.”

Hadist lainnya mengenai keutamaan nisfu Sya’ban bisa dibaca pada hadits yang ada dalam Shahih Ibnu Hibban dijelaskan “Allah SWT memerhatikan makhluk-Nya saat malam nisfu Sya’ban serta mengampuni semua makhluk-Nya terkecuali orang kafir serta orang yang bermusuhan.”

Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki menyatakan jika ada beberapa kemuliaan pada malam Nisfu Sya’ban. Seperti diambil nuonline, sekurang-kurangnya ada tiga amalan yang bisa dikerjakan saat malam Nisfu Sya’ban yang disarikan dari kitab Madza fi Sya’ban karya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.

Salah satunya, Allah akan mengampuni dosa orang yang meminta ampunan saat malam itu, mengasihi orang yang meminta kasih, menjawab do’a orang yang minta, melapangkan penderitaan orang sulit, serta membebaskan sekumpulan orang dari neraka.

Mengenai tiga amalan yang begitu disarankan saat malam nisfu Sya’ban ialah:

Pertama, perbanyak doa. Hadits kisah Abu Bakar jika Nabi Muhammad SAW bersabda, yang berarti, “(Karunia) Allah SWT turun ke bumi saat malam nisfu Sya’ban. Dia akan mengampuni semua hal terkecuali dosa musyrik serta orang yang didalam hatinya tersimpan kedengkian (kemunafikan),” (HR Al-Baihaqi).

Ke-2, membaca kalimat Syahadat sebanyak-banyaknya. Sayyid Muhammad bin Alawi menyampaikan, “Seyogyanya seseorang muslim isi waktu yang penuh karunia serta keutamaan dengan perbanyak membaca dua kalimat syahadat, La Ilaha Illallah Muhammad Rasululullah, terutamanya bulan Sya’ban serta malam pertengahannya.”

Ke-3 perbanyak istighfar. Minta ampun (istighfar) dapat dikerjakan setiap saat. Akan begitu disarankan lagi pada malam nisfu Sya’ban. Sayyid Muhammad bin Alawi menuturkan, “Istighfar adalah amalan utama yang perlu dibiasakan orang Islam, terpenting pada saat yang mempunyai keutamaan, seperti Sya’ban serta malam pertengahannya. Istighfar bisa mempermudah rejeki, seperti diterangkan dalam Al-Qur’an serta hadits. Pada bulan Sya’ban juga dosa diampuni, kesusahan dimudahkan, serta rasa sedih di hilangkan.”

Faruq Hamdi, Sekretaris Instansi Bahtsul Masail PWNU DKI Jakarta & Staf Komisi Dakwah MUI Pusat seperti dituliskan di Republika.co.id mengatakan Sya’ban adalah bulan yang di dalamnya ada beberapa momen bersejarah. Salah satunya momen berpindahnya arah kiblat dari Masjidil Aqsha Palestina ke arah Kabah (QS al-Baqarah: 144), turunnya ayat yang menyarankan untuk membaca shalawat (QS. al-Ahzab: 56) serta diangkatnya catatan amal manusia juga di bulan Sya’ban.

Menelisik dari sisi linguistik, al-Imam Abdurrahman al-Shafury dalam kitab “Nuzhat al-Majalis wa Muntakhab al-Nafais” menyampaikan jika kata Sya’ban adalah singkatan dari huruf shin yang bermakna kemuliaan (al-syarafu), huruf ‘ain yang bermakna derajat serta posisi yang tinggi atau terhormat (al-uluw), huruf ba’ yang bermakna kebaikan (al-birr), huruf alif yang bermakna kasih sayang (al-ulfah), serta huruf nun yang bermakna sinar (an-nur).

Faruq setelah itu menyampaikan malam nisfu Sya’ban seringkali dipakai oleh umat Islam untuk membaca surat Yasin sekitar 3 kali serta diteruskan dengan doa. Kebiasaan baik ini tidak kebanyakan orang Islam menjalankannya. Tapi tidak jadi masalah serta di antara mereka ada sama-sama menghargai serta sama-sama menghormati.

Lepas dari ingin tidaknya umat Islam mentradisikan malam nisfu Sya’ban, Faruq memperingatkan jika dalam satu hadits yang diriwayatkan al-Dailami, Imam ‘Asakir, serta al-Baihaqy, Rasulullah Saw bersabda: “Khomsu layaalin laa turaddu fiihinna ad-da’watu. Awwalu lailatin min Rajaba wa lailatun-nishfi min sya’baana wa lailatul jum’ati wa lailatayil-‘iidaini.” Berarti: “Ada 5 malam dimana doa tidak tertolak pada malam-malam itu, yakni: malam pertama bulan Rajab, malam Nisfu Syaban, malam jumat, malam Idul Fitri serta malam Idul Adha.”

“Man ahya lailatal-‘iidaini wa lailatan-nishfi min sya’baan lam yamut qalbuhu yauma tamuutul-qulub.” Berarti: “Siapa saja yang menghidupkan dua malam hari raya serta malam Nisfu Syaban, pasti tidak akan mati hatinya di hari di mana di hari itu semua hati jadi mati”.

“Wa qad jumi’a du’aa’un ma’tsuurun munasibun li haalin khaashin bi lailatin-nishfi min sya’baana. Yaqra’uha al-muslimuuna tilkal-lailata al-maimuunata furaadaa wa jam’an fii jawaami’ihim wa ghairiha. Yulaqqinuhum ahaduhum dzalikad-du’aa aw yad’uu wa hum yu’minuuna kama huwa ma’lum. Wa kaifiyatuhu: tuqro’u awwalan qabla dzalikad-du’a ba’da shalaatil maghrib suuratu Yasin.”

Berarti: “Sungguh sudah disatukan doa mathur yang berkaitan spesial dengan malam Nisfu Sy'aban. Doa itu dibaca oleh beberapa muslimin saat malam yang dikasihkan anugerah, baik dengan sendiri-sendiri ataupun berramai ramai. Seseorang dari mereka membacakan (mentalqin) doa itu serta jamaah mengikutinya atau ada pula salah seseorang yang berdoa serta jamaah mengaminkan saja seperti maklumnya. Adapaun triknya: membaca surat Yasin 3 x sesudah magrib, baru diteruskan dengan berdoa”